Jauh sebelum menikah alias sejak zaman gadis, saya bertekad mengajarkan bahasa Sunda sebagai bahasa pertama anak saya kelak. Ya, berawal dari kesadaran terhadap diri saya sendiri, yang notabene orang Sunda, tapi bahasa Sunda-nya belibet, gitu. Seringkali saya merasa awkward kalau ngobrol sama orang yang lebih tua pakai bahasa Sunda. Saya merasa bak orang yang baru aja belajar bahasa asing dan masih coba-coba latihan convestation sama native speaker. Dimana ketika saya ngomong, berasa gak PD, temponya pelan-pelan, karena sambil mikir ini bener gak yaa?. Terutama soal undak usuk basa.
Ini nih, yang jadi momok sejak pelajaran bahasa Sunda di SD. Meski saya orang sunda tulen, sulit rasanya menggunakan bahasa Sunda yang baik dan benar. bahasa Sunda adalah bahasa yang kaya, undak usuk basa ini salah satunya membedakan kata yang digunakan untuk percakapan kepada orang sepantaran, lebih tua, atau lebih muda. Sepengetahuan saya sih, membedakan tingkat kesopanan dalam berbahasa Sunda. Karena bahasa Sunda memiliki tingkatan bahasa lemes, loma, dan kasar.
Dalam bahasa Sunda, kata "makan" saja ada beberapa, tergantung kepada siapa kita berbicara. Saya kutip dari sundapedia.com nih, bahasa Sundanya makan ini cukup banyak. Antara lain: dahar, emam, neda, tuang, madang, nyatu, ngalegleg, tetegek, ngalebok, dan lolodok.
Kata-kata tersebut memiliki arti yang sama, yaitu makan tetapi penempatannya berbeda. Seperti sudah dijelaskan di paragraf awal, bahasa Sunda memiliki tingkatan bahasa lemes, loma, dan kasar. Bahkan kasar banget, yang khusus disebutkan untuk binatang.
Bahasa Sunda yang baik dan benar memang tidak dipungkiri kurang dikuasai oleh banyak orang sunda generasi millenial. Coba saja cek raport bahasa Sunda Millenial, keren sekali kalau dapati angka sembilan.
Selain itu, orangtua generasi millenial saat ini sepertinya lebih mengutamakan pengenalan bahasa Indonesia, atau bahkan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama anaknya. Lihat saja, rata-rata anak-anak di perkotaan saat ini berbahasa Indonesia. Jarang saya dengar anak-anak di perkotaan berbicara bahasa sunda. Berbeda sih dengan di rumah orangtua saja di Kabupaten Bandung. Dimana masih sering terlontar kalimat-kalimat bahasa sunda dari mulut polos anak-anak. Tapi ada juga sih anak kecil di Kota Bandung yang bicara bahasa Sunda. Ketika itu, di salah satu FO (Factory Outlet) di Jalan Soekarno Hatta, saya mendengar percakapan bahasa sunda seorang anak kecil dengan Ibunya. Bahasa halus lagi. Saya pikir orangtua itu keren, dan jadi contoh bagi saya untuk mengajarkan bahasa Sunda sebagai bahasa Ibu kepada anak saya kelak.
Satu hal lagi yang memotivasi saya, adalah diri saya sendiri. Sejak kecil saya bersama orangtua berbahasa Sunda. Saya bisa bahasa sunda, tapi seperti yang saya ceritakan tadi, sulit sekali rasanya menyesuaikan sesuai undak-usuk basa. Dengan orangtua pun, seringkali campur bahasa Indonesia, karena tidak tahu bahasa Sundanya apa.
Parahnya, tidak jarang saya keceplosan keluar kata 'loma' bahkan 'kasar' kepada orang yang lebih tua. Bahaya itu! Pernah suatu waktu, camer (calon mertua) sakit mata, saya spontan tanya kabarnya, "Mah, kunaon nyeri panon?" alhasil muka camer berubah, langsung saya ralat deh, "Mah, kunaon nyeri soca?" hahaha parah kan.
Sejak saat itu saya memilih menggunakan bahasa Indonesia jika ragu kepada orang yang lebih tua. Baru belakangan ini saja saya ngobrol bahasa Sunda kepada orang yang lebih tua, tapi tentu saja mikir dulu sebelum ngomong, jangan asal ceplos! Salah-salah bahasa kasar yang keluar, sehingga lawan bicara garuk kepala, terbengong-bengong, bahkan melotot.
Sekarang praktiknya nih, mengajarkan anak bahasa Sunda sejak bayi. Hal ini didukung penuh oleh Aki-Nini nya. Saya pun meminta beliau untuk memberikan kosakata-kosakata yang sesuai kepada anak saya, biar terbiasa. Sayang banget sih, banyak kosakata Sunda yang jarang digunakan belakangan ini.
Selain bahasa Sunda, saya juga bertekad ngajarin anak bahasa Inggris sejak dini. Tapi tunggu dulu, dari yang saja baca, bahasa asing lebih baik diperkenalkan diatas usia dua tahun. Dimana pondasi bahasa anak sudah mulai terbentuk. Katanya, kalau diajarkan dua bahasa terlalu dini, dapat menyebebkan speech delay, alias telat bicara.
Baru aja baca di nu.or.id, Indonesia merupakan negara yang memiliki bahasa terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Namun sayangnya dari 718 bahasa daerah di Indonesia yang tercatata di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), 11 bahasa daerah di antaranya sudah mengalami kepunahan karena sudah tidak ada lagi penuturnya.
Bagi saya, bahasa daerah adalah kekayaan budaya tak benda. Sayang kan, kalau kekayaan ini tidak diwariskan ke anak cucu kita, lalu menghilang begitu saja.
Prinsip saya sih,
Lestarikan bahasa Daerah
Gunakan bahasa Indonesia
Kuasai bahasa Inggris
Pelajarbahasa Asing




Komentar
Posting Komentar