Menjalani biduk rumah tangga adalah suatu fase kehidupan baru bagi banyak orang, termasuk aku. Tidak banyak perubahan yang dirasakan pada tahun pertama. Karena tidak banyak perubahan yang aku dan suami lakukan pada saat itu. Semua sama seperti sebelum menikah, mulai dari pekerjaan, kebiasaan, dan lainnya. Pekerjaan sebagai wanita karier di salah satu media di kota Bandung membuat aku masih "bebas" berkarya, bebas pergi kemanapun, seperti apa yang aku mau. Ditambah momongan yang belum hadir saat itu, membuat kami sebagai suami istri belum banyak merasakan banyak perubahan dalam hidup. Yang berubah hanyalah bertambahnya kebahagiaan karena kami sudah menikah.
Hampir dua tahun berselang, banyak keputusan besar dalam hidup kami lakukan. Termasuk pekerjaan, dan momongan. Jelang tahun kedua itu kami mulai berwiraswasta, membangun usaha bersama. Membangun usaha tidak semudah membalikkan telapak tangan memang. Jauh lebih menantang dibandingkan bekerja di bawah instansi. Ketika fokus membangun usaha, Allah karunikan kami buah hati. Semakin banyak perubahan yang kami jalani. Terutama aku, sebagai seorang ibu baru.
Perjalanan sebagai ibu baru sungguh luar biasa. Menyambut kehadiran sang buah hati terasa begitu ajaib. Suka tentu menjadi rasa yang membuncah menyambut kehadirannya. Namun tentu saja peran sebagai ibu baru penuh dengan tantangan. Rasa lelah seharian mengurusi si buah hati, sakit pasca persalinan, amat sangat aku syukuri dapat merasakan fase kehidupan ini. Meski demikian, rutinitas sebagai ibu baru banyak merubah aku sebagai diriku sendiri. Tentu saja, banyak kebiasaan lama yang berubah. Banyak aktifitas favorit yang harus terlewatkan. Meski tentu saja mengurus si kecil merupakan kado terindah. Namun aku merasakan -aku kehilangan diriku sendiri.
Hal ini membuatku agak merasa "kosong". Hingga akhirnya aku menyadari, sebisa mungkin aku harus kembali menjadi diri sendiri, ditengah mengurus si buah hati.
Menulis
Menulis adalah aktifitas utama dalam pekerjaanku sebelumnya. Akupun berpikir, kenapa aku gak nulis lagi aja?? Menulis adalah salah satu kemampuanku - meski gak jago-jago banget, masih belajar lah. Tapi dengan menulis aku bisa menyalurkan ledakan ide di kepalaku. Menulis juga sarana bagiku menambah wawasan, karena mau tidak mau, untuk menyajikan sesuatu yang berkualitas membutukan berbagai referensi.
Mendengarkan Musik
Ini juga gak jauh-jauh dari pekerjaan aku dulu, yang memang aku senangi. Musik adalah salah satu bagian hidupku saat itu. Aku mengeksplor banyak jenis musik, dan menikmati banyak musik. Inilah yang mulai kembali aku lakukan saat ini, ketika mood seringkali tidak bersahabat. Aku kembali mendengarkan musik favorit untuk mengubah mood. Ini efektif banget sih. Seringkali mood jelek berubah seketika, lonjakan enerngi pun terjadi. Yang tadinya mager - jadi semangat lagi.
Olahraga
Olahraga adalah salah satu aktifitas favoriku. Kembali berolahraga adalah salah satu cara mencari diriku sendiri. Aktifitas ini tentu aja menyehatkan dan merupakan salah satu mood booster yang paling ampuh.
Beribadah
Tentu saja aktifitas ini yang tidak boleh terlewatkan. Selain karena kewajiban yang utama, mendekatkan diri kepada-Nya merupakan sarana bagiku dalam mecari ketenangan diri.
Memasak
Sebenarnya sudah lama sih aku suka masak. Tapi memang gak aku seriuskan sih. Terutama sebelum menikah, aku hanya memasak untuk diri sendiri, memasak iseng yang aku senangi. Memasak hanya ketika mood. Berbeda setelah menikah, aku harus lebih serius memasak karena selain aku, ada suamiku yang menjadi pelanggan utama masaan istrinya-aku. Kasihan kan kalo dikasih masakan gak enak hehe.
Berkreasi
Menulis salah satunya, namun belakangan aku aktif kembali mengurusi akun intagramku. Mengisinya kembali dengan foto-foto yang menurutkku menarik, banyak diantaranya tanaman punya ibuku hihihi
Menambah Wawasan
Membaca salah satunya, adalah salah satu cara untuk kembali mencari diriku sendiri. Menambah wawasan juga aku lakukan dengan mengikuti banyak forum, diantaranya grup Whatsapp dan Telegram.
Belajar, belajar, dan belajar
Selama ini banyak waktu yang aku sia-siakan. Sempat terpikir, selama sekian tahun hidup, aku kurang serius dalam menuntut ilmu. Barulah sekarang- entah mengapa- rasa penasaranku muncul ingin belajar ini-itu.
Mengatur Waktu
Last but not least, ini menjadi tantangan terberat bagiku. Karena menjalani ini semua perlu manajemen waktu yang handal. Jujur saja aku agak payah dalam hal ini. Namun tentu aku harus berusaha melakukannya, salah satunya dengan membuat skala prioritas.
Menjadi diri sendiri itu penting, apapun fase kehidupan yang kita jalani. Selama apa yang kita lakukan untuk menjadi diri sendiri merupakan hal yang positif. Kita bisa lebih bahagia menjadi diri sendiri meski tidak menggeser kewajiban dan prioritas yang harus kita utamakan.

Komentar
Posting Komentar